Rabu, 26 September 2012

KONTRIBUSI BEHAVIORISME PSIKOLINGUISTIK TERHADAP PEMEROLEHAN BAHASA DENGAN  METODE PEMBELAJARAN BAHASA ARAB AMTSILATI
Disusun Untik Memenuhi Tugas Mata Kuliyah Psikolinguistik
Dosen Pengampu: Habibi Muhammad Lutfi, SS, M. Hum


Disusun Oleh:
M.Adirrahman
Prodi: PBA IV
No Nim: 10.11.00236
Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah
Program Studi Pendidikan Bahasa Arab
Tahun Akademik 2011/2012



       I.            Pendahuluan
Berbicara tentang pengajaran bahasa, baik bahasa pertama (B1) maupun bahasa kedua (B2) atau bahasa asing, maka ada dua grand teori yang menjadi landasan teoritis dalam pengembangan pengajaran bahasa, yaitu teori ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu bahasa (linguistic). Psikologi menguraikan bagaimana orang belajar sesuatu, linguistic memberikan informasi tentang seluk beluk bahasa. Informasi dari keduanya diramu menjadi suatu cara atau metode yang memudahkan proses belajar-mengajar bahasa untuk mencapai tujuan tertentu.
Para pakar psikologi pembelajaran sepakat bahwa dalam proses belajar-mengajar terdapat unsur-unsur (1) internal, yaitu bakat, minat, kemauan dan pengalaman terdahulu dalam diri pembelajar; dan (2) eksternal, yaitu lingkungan, guru, buku teks, dsb. Permasalahannya adalah unsur manakah yang merupakan factor dominan atau paling besar pengaruhnya dalam proses pembelajaran? Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditelusuri melalui dua mazhab besar dalam psikologi, yaitu mazhab behaviorisme (al-sulukiyah) dan mazhab cognitive (al-ma’rifiyah). Mazhab pertama memberikan perhatian lebih besar kepada factor-faktor eksternal, sedangkan mazhab kedua lebih memfokuskan perhatiannya kepada factor internal. Yang terlebih permasalahan pada proses pemerolehan bahasa Arab yang merupakan bahasa yang mempunyai karakter-karakter yang uinik dan sulit. Yang menjadikan orang minder dan malaz untuk mempelajarinya. Dari proses pemerolehannya membutuhkan stimulus atau pihak eksternal dan waktu yang relatif lama. Dalam proses pengajaran ini mazhab yang pertama lebih dominan sebagai penunjang keberhasilan dalam memperoleh bahasa Arab tersebut.
Tujuan pembuatan makalah ini:
1.      Pengertian secara singkat tentang teori behaviorisme
2.      Karakteristik dalam bahasa arab.
3.      Problematika dalam pembelajaran bahasa arab
4.      Kontribusi Behaviorisme Psikolinguistik Terhadap Pemerolehan Bahasa Dengan  Metode Pembelajaran Bahasa Arab Amstilati.








    II.            Pembahasan
A.     Teori Bahavoirisme
Mazhab behaviorisme atau yang sering disebut oleh sebagian pakar sebagai associatonism theory, yang lahir pada akhir abad sembilan belas, dan awal abad dua puluh M, teori ini di mulai oleh Pavlov (1849-1936). Toeri ini menjelaskan pengertian tingkah laku melalui aksi dan reaksi atau stimulus menghasilkan response; stimulus yang berbeda menghasilkan responsi yang berbeda pula. Hubungan antara stimulus tertentu dengan responsi tertentu disebut kebiasaan atau habit. Yang menjadi masalah pokok adalah “bagaimana terjadinya hubungan antara stimulus dan responsi (S-R)?” Menurut aliran psikologi behaviorisme klasik, yang dipelopori oleh Watson, stimulus mendatangkan responsi. Apabila stimulus terjadi secara tetap maka responsi pun terlatih dan diarahkan tetap sehingga akhirnya bersifat otomatis. Aliran psikologi behaviorisme modern, dengan tokoh Skinner, berpendapat bahwa kebiasaan dapat terjadi dengan cara peniruan dan penguatan. Skinner  dianggap sebagai tokoh yang paling terkenal dalam teori ini , dan dia juga dianggap sebagai tokoh utama bagi pengajaran terprogram (programmed learning). Skinner membatasi ilmu jiwa (psikologi) sebagi studi yang mengkaji tingkah laku sebagai objek penelitian.dalam hal ini, ilmu jiwa menjadi ilmu bagi tingkah laku.[1]
Kebiasaan mempunyai dua karakteristik utama. Pertama, kebiasaan itu dapat diamati atau observable, bila berupa benda dapat diraba, dan bila berupa kegiatan atau aktivitas dapat dilihat. Kedua, kebiasaan itu bersifat mekanistis atau otomatis. Kebiasaan itu terjadi secara spontan tanpa disadari dan sangat sukar dihilangkan terkecuali kalau lingkungan berubah. Perubahan itu mengarah kepada penghilangan stimulus yang membangkitkannya.
Walaupun teori pembentukan kebiasaan (habit formation) itu bersifat umum, aplikasinya digunakan juga dalam pengajaran bahasa. Di dalam pengajaran bahasa pertama (B1), anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui peniruan. Peniruan itu biasanya diikuti oleh pujian atau perbaikan. Melalui kegiatan itulah anak-anak mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur, pola kebiasaan bahasa ibunya. Hal yang sama berlaku juga dalam pengajaran bahasa kedua (B2) atau bahasa asing. Melalui cara peniruan dan penguatan, para siswa mengidentifikasi hubungan antara stimulus dan responsi yang merupakan kebiasaan dalam berbahasa kedua atau bahasa asing.
Dalam pengajaran bahasa, aliran/mazhab behaviorisme ini melahirkan pendekatan aural-oral (thariqah sam’iyah syafawiyah). Dalam pendekatan ini, peran guru sangat dominant karena dialah yang memilih bentuk stimulus, memberikan ganjaran dan hukuman, memberikan penguatan dan menentukan jenisnya, dan dia pulalah yang memilih buku, materi, dan cara mengajarkannya, bahkan menentukan bentuk jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada pembelajar. Pendekatan ini memberikan perhatian utama kepada kegiatan latihan, drill, menghafal kosa kata, dialog, teks bacaan, dan pada sisi lain lebih mengutamakan bentuk luar bahasa (pola, struktur, kaidah) dari pada kandungan isinya, dan mengutamakan kesahihan dan akurasi dari pada kemampuan interaksi dan komunikasi.

Pengetahuan tentang karakteristik bahasa Arab merupakan tuntutan yang selayaknya dipahami oleh para pengajar bahasa Arab, karena pengetahuan tersebut akan memudahkan mereka dalam melaksanakan kegiatan pengajaran bahasa Arab. Namun harus dicernati bahwa karakteristik bahasa Arab ini tidak identik dengan kesulitannya. Dengan memiliki pengetahuan yang baik tentang karakteristik bahasa Arab setidaknya para pengajar bahasa Arab akan mengetahui keunikan yang dimiliki bahasa Arab dan mencari strategi yang sesuai untuk memudahkan anak didiknya dalam mempelajari bahasa Arab.
Bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik dan universal. Unik artinya bahasa Arab memiliki ciri khas yang membedakannya dengan bahasa lainnya, sedangkan universal berarti pula adanya kesamaan nilai antara bahasa Arab dengan bahasa lainnya. Di antara karakteristik universal bahasa Arab tesebut antara lain:
1)      Bahasa arab memiliki gaya bahasa yang beragam. Keragaman gaya bahasa tersebut meliputi (a) ragam sosial, ragam bahasa yang menunjukkan stratifikasi sosial ekonomi penuturnya. Sebagai misal, bahasa yang digunakan oleh penutur yang terpelajar berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh penutur yang kurang berpendidikan, ragam bahasa standar (fusha) berbeda dengan ragam bahasa 'amiyah. (b) ragam geografis, ragam bahasa yang menunjukkan letak geografis penutur antara satu daerah dengan daerah yang lain, sehingga melahirkan dialek yang beragam pula, seperti dialek Saudi berbeda dengan dialek Mesir, Syria, Maroko, dll. (c) ragam idiolek, ragam bahasa yang menunjukkan integritas kepribadian setiap individu masyarakat.
2)      Bahasa Arab dapat diekspresikan secara lisan maupun tertulis.
3)      Bahasa Arab memiliki system, aturan dan perangkat yang khas. Artinya bahasa Arab memiliki system bunyi, system kata, system kalimat, dan system makna, dengan aturan-aturan yang khas.
4)      Bahasa Arab memiliki sifat yang arbitrer dan simbolik. Arbitrer berarti mana suka, artinya tidak terdapat hubungan yang rasional antara lambang verbal dengan acuannya. Sebagai misal, benda cair yang bening yang biasa diminum dalam bahasa Arab disebut ma', dalam bahasa Indonesia disebut air, dan dalam bahasa Inggris disebut water. Kata-kata dalam setiap bahasa merupakan lambang-lambang benda nyata, abstrak, gagasan, dan sebagainya. Dengan sifat simbolis yang dimiliki bahasa, manusia dapat mengabstaksikan berbagai pengalaman dan pikirannya tentang berbagai hal termasuk hal-hal yang belum pernah dialaminya sekalipun.
5)      Bahasa Arab senantiasa berkembang, produktif, dan kreatif. Suatu bahasa itu sangat terbuka untuk berkembang. Dari satu kata akan berkembang menjadi kalimat, dari satu kalimat dapat dihasilkan jumlah kalimat yang tidak terbatas. Dari satuan bunyi yang sangat kecil dapat dihasilkan ribuan jumlah kata. Selain itu, perkembangan bahasa selalu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Sebagai contoh, dalam bahasa Arab terdapat sejumlah kata yang merupakan serapan dari bahasa lainnya seiring dengan perkembangan era informasi dan teknologi. Seperti: tilivaz, tilfun, radiyu, al-hasub al-'aliy, al-barid al-elektroniy, dll.
6)      Bahasa Arab merupakan fenomena individu dan fenomena sosial manusia. Sebagai fenomena individu, ia merupakan ciri khas kemanusiaan. Dengan kemampuan berbahasa yang dimilikinya, manusia dapat berkembang melebihi makhluk-makhluk lainnya. Sedangkan sebagai fenomena sosial, bahasa merupakaqn suatu konvensi (kesepakatan) suatu masyarakat pemilik atau pengguna bahasa itu. Kesepakatan yang dimaksud pada dasarnya merupakan kebiasaan yang berlangsung turun temurun dari nenek moyangnya.
Di samping memiliki karakteristik universal, bahasa Arab juga memiliki karakteristis yang unik, antara lain:
a)      Bahasa Arab memiliki bunyi yang konsisten dengan hurufnya. Bahasa Arab memiliki huruf yang tetap jumlahnya, yaitu 29 huruf, dan setiap satu huruf memilki satu system bunyi. Berbeda dengan bahasa Inggris yang memilki 26 huruf yang dapat menghadirkan 40 system bunyi.
b)      Bahasa Arab memiliki struktur kata yang dapat berubah dan berproduksi. Satu bentuk kata dasar dalam bahasa Arab dapat memproduksi berbagai bentuk kata dengan makna yang berbeda. Di sinilah faktor kemudahan bahasa Arab. Dengan penguasaan kaidah tashrif dan isytiqaq yang sebagian besar bersifat qiyasi (analogis), 45% kata-kata dalam bahasa Arab dapat dilacak. Seperti kada dasar (قرأ) yang artinya membaca, dapat ditambah awalan, sisipan, dan akhiran yang menghasilkan berbagai variasi maknanya. Contoh (قراءة) yang berarti bacaan, (قارئ) berarti pembaca/orang yang membaca, (مقروء) berarti yang dibaca, dan sebagainya.
c)      Adanya i'rab dalam struktur kalimat bahasa Arab. I'rab ini erat sekali hubungannya dengan makna. Perubahan harakat akhir suatu kata sangat ditentukan oleh kedudukan atau jabatan kata dalam struktur kalimat atau karena didahului oleh salah satu huruf atau kata tugas (nawashib, jawazim, dan nawasikh). Perubahan i'rab itu sangat besar pengaruhnya terhadap makna kalimat secara keseluruhan. Misalnya: ضرب أحمدُ عمرَ (Ahmad memukul Umar). Perhatikan, kata Ahmad berharakat akhir dhammah dan kata Umar berharakat akhir fathah. Bila harakat akhir kedua kata itu dirubah: ضرب أحمدَ عمرُ , kata Ahmad berubah menjadi berharakat akhir fathah dan Umar menjadi berharakat akhir dhammah, maka makna kalimat itu juga berubah menjadi (Ahmad dipukul Umar atau Umar memukul Ahmad).
d)      Tulisan bahasa Arab bergerak maju dari kanan ke kiri, demikian pula membacanya. Karakteristik inilah yang membedakan bahasa Arab dari segala bahasa di dunia.
e)      Bahasa Arab komitmen dengan bilangan dan gender. Ada istilah mufrad yang berarti kata benda tunggal, mutsanna berarti kata benda dual, dan jama' berarti kata benda plural. Ada istilah mudzakkar artinya kata benda maskulin dan muannats artinya kata benda feminin.
Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa ciri-ciri khas bahasa Arab tersebut tidaklah identik dengan kesulitannya, karena banyak di antara ciri khas itu yang merupakan faktor kelebihan dan kemudahan bahasa Arab. Tinggal bagaimana kita melihat, mencermati, dan mendalami substansi bahasa Arab.[2]

C.     Problematika Pembelajaran Bahasa Arab
Problematika adalah unit-unit dan pola-pola yang menunjukkan perbedaan struktur antar satu bahasa dengan bahasa yang lain. Problema dalam pembelajaran bahasa Arab merupakan suatu faktor yang bisa menghalangi dan memperlambat pelaksanaan proses belajar mengajar dalam bidang studi bahasa Arab. Problema tersebut muncul dari kalangan pengajar (guru) dan peserta didik itu sendiri.
1.      Problematika Linguistik
Problematika linguistik adalah kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran yang diakibatkan oleh karakteristik bahasa Arab itu sendiri sebagai bahasa Asing bagi anak-anak Indonesia. Problema yang datang dari pengajar adalah kurangnya profesionalisme dalam mengajar dan keterbatasannya komponen-komponen yang akan terlaksannya proses pembelajaran bahaa Arab baik dari segi tujuan, bahan pelajaran (materi), kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber pelajaran, dan alat evaluasi.
Sedangkan problema yang muncul dari siswa  dalam belajar bahasa Arab adalah pengalaman dasar latar belakang sekolah (SMP/ Mts), penguasaan mufradhat (pembendaharaan kata), dan akibat faktor lingkungan keluarga akibatnya mereka mengalami kesulitan untuk memahami bacaan-bacaan serta tidak mampu menguasai bahasa Arab secara utuh baik dalam gramatika maupun komunikasinya. Basyar dan Malibari juga menyebutkan yang termasuk problematika linguistik adalah sebagai berikut:
a)      Tata Bunyi
Sebenarnya pembelajaran bahasa Arab di Indonesia sudah berlangsung berabad-abad lamanya, akan tetapi aspek tata bunyi sebagai dasar untuk mencapai kemahiran menyimak dan berbicara kurang mendapat perhatian. Hal ini disebabkan karena pertama, tujuan pembelajaran bahasa Arab hanya diarahkan agar pelajar mampu memahami bahasa tulisan yang trdapat dalam buku-buku berbahasa Arab. Kedua, pengertian hakekat bahasa lebih banyak didasarkan atas dasar metode gramatika-terjamahan. Dengan sendirinya gambaran dan pengertian bahasa atas metode ini tidak lengkap dan utuh, karena mengandung tekanan bahwa bahasa itu pada dasarnya adalah ujaran. Memang perlu diketahui bahwa diberbagai pesantren, masjid, bahkan di rumah-rumah dalam rangka mengajarkan Al-Qur’an telah diajarkan tata bunyi bahasa yang disebut makharijul huruf dalam ilmu tajwid.

Akan tetapi ilmu tersebut menitik beratkan perhatian hanya untuk kepentingan kemahiran membaca Al-Qur’an, bukan untuk tujuan membina dan mengembangkan kemahiran menggunakan bahasa Arab. Jadi selama ini tata bunyi kurang diperhatikan dalam mempelajari bahasa Arab. Akibatnya seorang yang sudah lama mempelajari bahasa Arab masih juga kurang baik dalam pengucapan kata-kata atau kurang cepat memahami kata-kata yang diucapkan orang lain. Akibatnya seanjutnya masih terdapat kesalahan menulis ketika pelaaran didiktekan baik pelajaran bahasa Arab atau pelajaran-pelajaran lain yang bersangkut paut dengan bahasa Arab.
b) Kosa Kata
Faktor menguntungkan bagi para pelajar bahasa Arab dan bagi guru bahasa Arab di Indonesia adalah segi kosa kata atau perbendaharaan kata karena sudah banyak sekali kata Arab yang masuk ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Namun demikian, perpindahan kata-kata dari bahasa asing ke dalam bahasa siswa dapat menimbulkan hal-hal sebagai berikut  :
1.      Pergeseran arti
2.      Lafaznya berubah dari bunyi aslinya tetapi artinya tetap.
3.      Lafaznya tetap, tetapi artinya sudah berubah seperti kata “kalimat” yang bahasa Indonesianya adalah susunan kata-kata, sedangkan arti dalam bahasa arab kata-kata.
c) Tata kalimat
Ilmu nahwu bukanlah ilmu mempelajari i’rab yaitu perubahan akhir kata karena berubah fungsi kata itu adalah kalimat, dan binaa’ yaitu tidak adanya prubahan akhir kata meskipun kata itu berubah-ubah fungsi dalam kalimat. Ilmu nahwu adalah sintak yakni ilmu menyusun kalimat, sehingga kaidah-kaidahnya mencakup hal-hal lain disamping i’rab dan binaa’.
d) Tulisan
Adapun faktor yang mugkin menghambat pembelajaran bahasa arab ialah tulisan Arab yang berbeda sama sekali dengan bahasa siswa (tulisan latin) . Oleh karena itu, tidak mengherankan jika meskipun sudah duduk di perguruan tinggi seperti IAIN, masih juga membuat kesalahan dalam menulis Arab baik mengenai pelajaran bahasa maupun ayat-ayat Al-Quran dan Hadits, baik pada buku catatan ataupun dalam karangan-karangan ilmiah.
2.    Problematika Non Linguistik
Sebagai sosio-kulturil bahasa Arab sudah tentu berbeda dengan sosio-kulturil bangsa Indonesia. Hal ini menimbulkan problem pula sehubungan dengan pembelajaran bahasa Arab. Karena akibat perbedaan sosio-kulturil tersebut, maka antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia terdapat perbedaan-perbedaan antara lain ungkapan-ungkapan, istilah-istilah ataupun nama-nama benda. Problem yang mungkin timbul adalah ungkapan-ungkapan, istilah-istilah, dan nama-nama benda yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia tidak mudah dan cepat dipahami pengertiannya oleh pelajar Indonesia yang belum mengenal sedikitpun segi sosio-kulturil bahasa Arab.[3]

D.  Kontribusi Behaviorisme Psikolinguistik Terhadap Pemerolehan Bahasa Dengan  Metode Pembelajaran Bahasa Arab Amtsilati
Dalam pemerolehan bahasa pada anak baik bahasa ibu maupun bahasa asing mempunyai beberapa tahap, yang dimulai daro proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan morfologi, dan proses pemerolehan sintaksis. Pada proses pemerolehan fonologi pada anak dimulai dari tahap cooing sebagai tahapan di mana anak mulai dapat membedakan bunyi-bunyi untuk selanjutnya mengarhkan pada memahami persepsi (speech perception). Untuk itu diperlukan pendekatan berkesinambungan  (the continuity approach) dan pendekatan tak berkesinambungan (the discontinuity approach). Adapun tahapan meliputi penglihatan konsonan akhir, pengurangan kelompok konsistan, penghilangan silabi, dan reduplikasi. Dan peada proses pemerolehan morfologi, anak melakukan deferensiasi kelas kata yang melipuiti pembentukan kata jamak, pembentukan imbuhan dan perubahan kata kerja. Selain itu anak akan memahami hukum pemerolehan yang meliputi pemahaman bentuk dan macam makna kata berdasarkan konteks, membedakan kata-kata tugas dan imbuhanya, membuat generalisasi, memperhatikan akhiran dan awalan, serta memahami aturan penempatan kata.
Adapun pada proses pemerolehan sintaksis meliputi teori tata bahasa piovt, teori hibungan kata nurani, teori hubungan tata bahasa dan situasi, teori kumulatif kompleks dan teori pendekatan semantik[4]. Terutama pada proses pemerolehan bahasa asing yangmana anak tahapan yang diatas adalah hal yang mungkin lebih sulit dibandingkan dengan pemerolehan bahasa ibu B (1), yang terlebuh pada pemerolehan bahasa arab yang terkadang terbayang sulit karena karakteristik bahasanya yang beragam, walaupun kebanyakan orang, terkhusus di negara kita yangmana pembelajaran bahasa arab sudah ditanamkan sejak dini. Akan tetapi kebanyakan pada proses pembelajarannya yang lama dan terbilang sulit dan bahasa arab untuk non-Arab itu termasuk hal yang baru . Dalam sistem pengajara program bahasa arab dimulai dari bebrapa tahap model pengajaran dari sejak tahun terakhir abad 13 hijriyah yang lalu (abad 20 M), program pengajaran bahasa arab untuk non-Arab masih menggunkan semua metode pembelajaran trsdisional, dan kontempoler. Program pengajaran bahasa arab ini mengenal metode kaidah dan terjemah (grammar transilation method). Inilah metode pengajaran tertua yang sudah terkenal. Program pengajaran bahasa Arab mengadopsi metode audiolingual  dalam waktu yang panjang.
Berdasarkan metode ini, dibuatlah rancangan pelajaran dan kurikulum, dan buku ajar. Para penagjar pun dilatih berdasarkan berdasarkan metode itu. Peninggalanya masih ada bekasnya hingga sekarang. Adapun pendekatan baru, khususnya pendekatan komunikasi berikut semua metodenya, sesungguhnya- menurut pendapat saya belum masuk ke dalam bidang pengajaran bahasa Arab untuk nono-Arab dalam pengertian yang sebenarnya, terkecuali ada sebagian pandapat penganut aliran kognitif, yang kadang-kadang terlihat dari sela-sela pembicaraan tentang pengajaran kaidah[5].
Meski pola pengajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua di atas sangat dominan berlaku di berbagai pondok pesantren salaf hingga kini, dan diakui kontribusinya dalam memberikan pemahaman umat Islam Indonesia terhadap ajaran agamanya, namun tuntutan dunia komunikasi pada gilirannya menggiring perubahan baru pola pengajaran bahasa Arab. Interaksi antar bangsa menuntut umat Islam untuk tidak sekedar memiliki kemampuan berbahasa Arab reseptif (pasif), tetapi kemampuan berbahasa yang lebih aktif dan produktif. Semangat pembaruan ini diperkuat dengan munculnya para cendikiawan dan intelektual muda muslim dengan nuansa pemikiran yang segar, sekembali mereka dari menuntut ilmu di negeri pusat-pusat pendidikan di Timur Tengah, terutama Mesir.
Pada masa inilah metode langsung (direct method / al-thariqah al-mubasyirah) mulai diterapkan dalam pengajaran bahasa Arab di Indonesia. Pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga ini terdapat di berbagai pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam modern sejak awal abad ke-19. Dimulai di Padang Panjang oleh ustadz Abdullah Ahmad, Madrasah Adabiyah (1909), dua bersaudara Zaenuddin Labay al-Yunusi dan Rahmah Labay el-Yunusiyah, Diniyah Putra (1915) dan Diniyah Putri (1923), dan ustadz Mahmud Yunus, Normal School (1931). Kemudian ditumbuh-kembangkan oleh K.H. Imam Zarkasyi di Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah Gontor Ponorogo.
Dalam sistem pengajaran bentuk ketiga ini, pelajaran agama pada tahun pertama diberikan sebagai dasar saja dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagaian besar perhatian siswa dicurahkan kepada pelajaran bahasa Arab dengan metode langsung. Pada tahun kedua, ilmu tata bahasa Arab (nahwu-sharaf) mulai diberikan dalam bahasa Arab dengan metode induktif (al-thariqah al-istiqra'iyah), ditambah dengan latihan intensif qira'ah (reading), insya' (writing), dan muhadatsah (speaking/conversation). Pelajaran agama juga disajikan dalam bahasa Arab. Dalam masa belajar enam tahun (pasca sekolah dasar), seorang lulusan perguruan Islam modern ini (setara dengan lulusan SLTA/SMA) telah mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab secara lisan dan tulis, serta mampu membaca buku berbahasa Arab dalam berbagai subyek pengetahuan.
Dalam perkembangannya, pengajaran bahasa Arab di perguruan Islam modern ini tidak hanya menggunakan metode langsung tapi mengikuti pembaruan-pembaruan yang terjadi di dunia pengajaran bahasa, misalnya metode aural-oral (al-thariqah al-sam'iyah al-syafawiyah) dan pendekatan komunikatif (al-thariqah al-itthishaliyah)[6].
Dalam kaitanya dengan metode pengajaran bahasa Arab yang terus berkembang, berbagai metode pun bermunculan yang akan tetapi penekana pengajaranya langsung terhadap tata bahasanya (garammar), seperti misalnya metode 33, amstilati, dan lain sebagainya. Dalam kajian kali ini saya akan menekankan pada metode pengajaran Amtsilati yangmana kemunculan metode pengajaran ini memebantu dan mempermudah dalam kajian kebahasaan Arab. Dalam pengajaranya metode Amtislati mengedepankan hafalan yang menjadi acuan keberhasilan seorang anak yang belajar. Yangmana peranan psikolinguistik behavioristik sangat berpengaruh terhadap berjalanya pengajaran dengan metode ini, walaupun dalam kenyataanya ranah kognitifpun tidak bisa untuk dilepaskan.
Proses dalam pengajaran Amtsilati mempunyai beberapa tahap yang mana tahap-tahap tersebut mengklasifiksikan antra murid yang pemula dan yang sudah bisa. Tahapan dalam pengajaranya yaitu terbagi pada tiga tahap, yang tahap pertama yaitu jilid 1 – jilid 5, sebagi pembekalan rumus-rumus bahasa Arab atau tahapan pemula. Dan tahap yang kedua adalah Pra-prakterk yang mana dalam tahap ini murid-murid digembleng kembali hafalanya dari awal sampai jilid yang terakhir untuk mempersiapkan ketahap yang terakhir yaitu Praktek, yangmana dalam tahap ini anak didik sudah di dilibatkan dalam pemeraktekan ketata-bahasaan dan dituntut harus bisa. Dalam pengajarannya setiap jilid gurunya terdiri dari bebrapa guru sepesialis, ada sepesialis jilid satu, jilid dua, dan seterusnya, ada sepesialis praktek dan sepesialis penilai.
Misalnya, ada anak 100 orang anak 40 orang diajari Amtsilati jilid satu semua, pengajaranya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Tidak terlalu cepat artinya tidak terlalu mengikuti kamauan anak-anak yang cerdas dalam kognitifnya, sementara bagi anak yang tidak mampu mengikuti (bodoh). Jangan terlalu lambat artinya jangan kita menuruti kemauan anak yang lambat, sehingga anak-anak pandai jadi jenuh dan meremehkan pelajaran. Anak yang memang sangat lambat, ditinggal saja agar hanyut sampai khatamanya jilid satu. Dalam waktu lamanya pengajaran diusahakan sampai seminggu atau 10 hari bisa khatam satu jilid. Sehari 3 sampai 4 kali pertemuan, masing-masing 45 menit.[7] Adapun buku-buku Amtsilati sendiri terdiri dari:
Ø  Rumus Qoidah yang merupakan kitab intisari dari amtsilati milai dari jilid satu sampai jilid lima dan dilengkapi petunjuk nadhoman yang ada pada kitab khulasoh. Untuk mencapai keberhasilan maka nadloman seyogyanya dihafalkan, bila tidak mampu maka materi dan rumusnya dipahami. Rumus Qaidah juga sebagai kunci untuk mengukur kemampuan dan keberhasilan pada anak.
Ø  Jilid 1 – jilid 5 yang merupakan kitab pengaplikasian dari kitab Rumus Qoidah diatas. Dan kitab jilidan ini sebagai pengukur kemampuan pada anak dan sejauh mana memahami Rumus Qaidah dalam penerapannya.
Ø  Kitab Sorfiyah, yaitu kitab yang berisi tentang ilmu shorop, perpaduan tasrif lughawi, istilahi dan i’lal sekaligus. Sorfiyah digunakan sebagai tabel, apabila menemukan kata-kata yang sulit yang dibahas dalam Amtsilati, dengan mengqiyaskan kata tersebut dengan kata yang ada.
Ø  Kitab Thatimah yang mana berisi tentang penerapan rumus yang sangat penting, sehingga memudahkan para pembaca menerapakan berbagai qoidah yang ada.
Keberhasilan berjalanya metode Amtsilati ini tidak terlepas dari toeri yang terdapat pada psikolinguistik yaitu teori behaviorisme. Yangmana proses pemerolehan bahasa dan pemerolehan kemampuan bahasanya didasrkan pada rangsangan-rangsangan luar, seperti stimulis yang diikuti oleh respon-balik. Dan pada proses pembelajaran metode Amtsilati stimulis yang menjadi stimulus acuan pada pemerolehan kemampuan anak dalam menguasia tata-bahasa Arab yaitu pada penekanana hafalan yang diperintahkan setiap gurunya kepada anak. Dari sinilah proses pembelajaran bahasa asing terutama bahasa Arab yang kebanyakan orang menganggap sulit dan butuh waktu lama dalam mempelajarinya, bisa ditempuh dengan waktu yang relatif singkat. Karena karena dalam proses pembelajaranya anak dituntut untuk menghafal semua kitab yang telah dijelaskan diatas. Dan dari pihak pengajarnyapun menuntut pada anak untuk berkompetisi dengan anak yang lain dengan adanya tuntutan seperti ini menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi para murid-murid yang belajar Amtsilati.

 III.            Penutup
Dalam proses pemerolehan bahasa baik bahasa ibu maupun bahasa asing pada anak adalah sebuah proses pembelajaran yang membutuhkan proses. Dalam prosesnya pemerolehan bahasa ini terdapat beberapa toeri dalam psikolinguistik yangmana membahas tentang pemerolehan bahasa. Dalam proses pemerolehan bahasa dan pengajarannya, kontribusi teori-teoeri psikolinguistik sangatlah berperan  penting.
Seperti yang telah saya paparkan diatas tentang kontribusi psikolinguistik terhadap keberhasilan dalam memperoleh bahasa yang terutama bahasa asing. Yang saya khusukan dalam kajian bahasa asing disini yaitu bahasa Arab. Dari beberapa teori psikolinguistik yang ada, saya mengambil teori bahaviorisme sebagai alat kajian dalam keberhasilan dan berjalanya metode Amtsilati. Dari proses pembelajaran dan pemerolehan bahasa yang terutama bahasa Arab membutuhkan kemauan atau waktu yang lama. Dan kebanyakan orang memandang mempelajari dan memperoleh kemampuan bahasa arab ini sangat sulit, karena bahasa Arab sendiri mempunyai karakter yang sangat unik. Dari sini munculah metode Amtsilati dari bebagai metode pembelajaran bahasa arab, yangmana membantu dan mempermudah dalam proses pemerolehan bahasa Arab dan relatif singkat. Keberhasilan seperti ini tidak terlepas dari kontribusi behaviorisme psikolinguistik sebagai penunjangnya.
  IV.            Daftar Pustaka
Prof. Dr. Aziz, Abdul bin Ibrahim el-Ushaili, Psikolinguistik Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: HUMANIORA; 2009
Indah, Nur Raomani dan Abdurrahman, Psikolinguistik Konsep dan Isu Umum. Malang: UIN-Malang; 2008
H. Hakim Taufiqul,” Tawaran Revolusi Sistem Pendidikan Nasional”. Bangsri, PP Darul Falah, jepara 2004
Dardjowidjojo Soenjono, Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia: 2005
H. Hakim Taufiqul, Rumus Qoidah, Jepara: Al-Falah Offiset: 2004
H. Hakim Taufiqul, Amtsilati Metode Praktis Mendalami Al-Quran dan Membaca Kitab Kuning Jilid 1 – 5, Sorfiyah dan Thatimah. Jepara: Al-Falah Ofisset: 2003
Admin, “Problematika Pembelajaran Bahasa Arab” www. Pesantren Sastra.com
Emil Bade Ya’qub,  fiqhullugah wa khosoisuha, Bairut, Darussanafah Al-Islamiyah






[1]  Prof. Dr. Abdul Aziz bin Ibrahim el-Ushaili, (Bandung, Humaniora, 2009). Hml. 126.
[2] Emil Bade Ya’qub,  fiqhullugah wa khosoisuha, ( Bairut, Darussanafah Al-Islamiyah) hlm. 231-253.
[3] Admin, “Problematika Pembelajaran Bahasa Arab” www. Pesantren Sastra.com, diakses pada 10 Juli 2012 pukul 08.30 WIB
[4] Rohmani Nur Indah dan Adurrahman “psikoloinguistik konsep dan isu umum” (Malang, UIN- Malang Press, 2008) hml. 103.
[5] Prof. Dr. Abdul Aziz bin Ibrahim el-Ushaili, (Bandung, Humaniora, 2009). Hml. 126.
[6] Achmad Asif,S.Pd.I,M.S.I,  pembelajaran qawa'id bahasa Arab” http://mahyudinritonga1. Blogspot.com diakses pada 7 Juli 2012 pukul 21.30 WIB
[7] H. Taufiqul Hakim,” Tawaran Revolusi Sistem Pendidikan Nasional”, (Bangsri, PP Darul Falah, jepara 2004)