KONTRIBUSI BEHAVIORISME PSIKOLINGUISTIK TERHADAP
PEMEROLEHAN BAHASA DENGAN METODE
PEMBELAJARAN BAHASA ARAB AMTSILATI
Disusun Untik Memenuhi Tugas Mata Kuliyah Psikolinguistik
Dosen Pengampu: Habibi Muhammad Lutfi, SS, M. Hum
Disusun Oleh:
M.Adirrahman
Prodi: PBA IV
No Nim: 10.11.00236
Sekolah
Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah
Program
Studi Pendidikan Bahasa Arab
Tahun
Akademik 2011/2012
I.
Pendahuluan
Berbicara tentang pengajaran bahasa, baik bahasa
pertama (B1) maupun bahasa kedua (B2) atau bahasa asing, maka ada dua grand
teori yang menjadi landasan teoritis dalam pengembangan pengajaran bahasa,
yaitu teori ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu bahasa (linguistic). Psikologi
menguraikan bagaimana orang belajar sesuatu, linguistic memberikan informasi
tentang seluk beluk bahasa. Informasi dari keduanya diramu menjadi suatu cara
atau metode yang memudahkan proses belajar-mengajar bahasa untuk mencapai
tujuan tertentu.
Para pakar psikologi pembelajaran sepakat bahwa dalam proses belajar-mengajar terdapat unsur-unsur (1) internal, yaitu bakat, minat, kemauan dan pengalaman terdahulu dalam diri pembelajar; dan (2) eksternal, yaitu lingkungan, guru, buku teks, dsb. Permasalahannya adalah unsur manakah yang merupakan factor dominan atau paling besar pengaruhnya dalam proses pembelajaran? Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditelusuri melalui dua mazhab besar dalam psikologi, yaitu mazhab behaviorisme (al-sulukiyah) dan mazhab cognitive (al-ma’rifiyah). Mazhab pertama memberikan perhatian lebih besar kepada factor-faktor eksternal, sedangkan mazhab kedua lebih memfokuskan perhatiannya kepada factor internal. Yang terlebih permasalahan pada proses pemerolehan bahasa Arab yang merupakan bahasa yang mempunyai karakter-karakter yang uinik dan sulit. Yang menjadikan orang minder dan malaz untuk mempelajarinya. Dari proses pemerolehannya membutuhkan stimulus atau pihak eksternal dan waktu yang relatif lama. Dalam proses pengajaran ini mazhab yang pertama lebih dominan sebagai penunjang keberhasilan dalam memperoleh bahasa Arab tersebut.
Para pakar psikologi pembelajaran sepakat bahwa dalam proses belajar-mengajar terdapat unsur-unsur (1) internal, yaitu bakat, minat, kemauan dan pengalaman terdahulu dalam diri pembelajar; dan (2) eksternal, yaitu lingkungan, guru, buku teks, dsb. Permasalahannya adalah unsur manakah yang merupakan factor dominan atau paling besar pengaruhnya dalam proses pembelajaran? Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditelusuri melalui dua mazhab besar dalam psikologi, yaitu mazhab behaviorisme (al-sulukiyah) dan mazhab cognitive (al-ma’rifiyah). Mazhab pertama memberikan perhatian lebih besar kepada factor-faktor eksternal, sedangkan mazhab kedua lebih memfokuskan perhatiannya kepada factor internal. Yang terlebih permasalahan pada proses pemerolehan bahasa Arab yang merupakan bahasa yang mempunyai karakter-karakter yang uinik dan sulit. Yang menjadikan orang minder dan malaz untuk mempelajarinya. Dari proses pemerolehannya membutuhkan stimulus atau pihak eksternal dan waktu yang relatif lama. Dalam proses pengajaran ini mazhab yang pertama lebih dominan sebagai penunjang keberhasilan dalam memperoleh bahasa Arab tersebut.
Tujuan pembuatan makalah ini:
1.
Pengertian secara singkat tentang
teori behaviorisme
2.
Karakteristik dalam bahasa arab.
3.
Problematika dalam pembelajaran
bahasa arab
4.
Kontribusi Behaviorisme
Psikolinguistik Terhadap Pemerolehan Bahasa Dengan Metode Pembelajaran Bahasa Arab Amstilati.
II.
Pembahasan
A.
Teori
Bahavoirisme
Mazhab behaviorisme atau yang sering disebut oleh
sebagian pakar sebagai associatonism theory, yang lahir pada akhir abad
sembilan belas, dan awal abad dua puluh M, teori ini di mulai oleh Pavlov
(1849-1936). Toeri ini menjelaskan pengertian tingkah laku melalui aksi dan reaksi
atau stimulus menghasilkan response; stimulus yang berbeda menghasilkan
responsi yang berbeda pula. Hubungan antara stimulus tertentu dengan responsi
tertentu disebut kebiasaan atau habit. Yang menjadi masalah pokok adalah
“bagaimana terjadinya hubungan antara stimulus dan responsi (S-R)?” Menurut
aliran psikologi behaviorisme klasik, yang dipelopori oleh Watson, stimulus
mendatangkan responsi. Apabila stimulus terjadi secara tetap maka responsi pun
terlatih dan diarahkan tetap sehingga akhirnya bersifat otomatis. Aliran
psikologi behaviorisme modern, dengan tokoh Skinner, berpendapat bahwa
kebiasaan dapat terjadi dengan cara peniruan dan penguatan. Skinner dianggap sebagai tokoh yang paling terkenal
dalam teori ini , dan dia juga dianggap sebagai tokoh utama bagi pengajaran
terprogram (programmed learning). Skinner membatasi ilmu jiwa
(psikologi) sebagi studi yang mengkaji tingkah laku sebagai objek
penelitian.dalam hal ini, ilmu jiwa menjadi ilmu bagi tingkah laku.[1]
Kebiasaan mempunyai dua karakteristik utama. Pertama,
kebiasaan itu dapat diamati atau observable, bila berupa benda dapat diraba,
dan bila berupa kegiatan atau aktivitas dapat dilihat. Kedua, kebiasaan itu
bersifat mekanistis atau otomatis. Kebiasaan itu terjadi secara spontan tanpa
disadari dan sangat sukar dihilangkan terkecuali kalau lingkungan berubah.
Perubahan itu mengarah kepada penghilangan stimulus yang membangkitkannya.
Walaupun teori pembentukan kebiasaan (habit formation)
itu bersifat umum, aplikasinya digunakan juga dalam pengajaran bahasa. Di dalam
pengajaran bahasa pertama (B1), anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui
peniruan. Peniruan itu biasanya diikuti oleh pujian atau perbaikan. Melalui
kegiatan itulah anak-anak mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur, pola
kebiasaan bahasa ibunya. Hal yang sama berlaku juga dalam pengajaran bahasa
kedua (B2) atau bahasa asing. Melalui cara peniruan dan penguatan, para siswa
mengidentifikasi hubungan antara stimulus dan responsi yang merupakan kebiasaan
dalam berbahasa kedua atau bahasa asing.
Dalam pengajaran bahasa, aliran/mazhab behaviorisme
ini melahirkan pendekatan aural-oral (thariqah sam’iyah syafawiyah). Dalam
pendekatan ini, peran guru sangat dominant karena dialah yang memilih bentuk
stimulus, memberikan ganjaran dan hukuman, memberikan penguatan dan menentukan
jenisnya, dan dia pulalah yang memilih buku, materi, dan cara mengajarkannya,
bahkan menentukan bentuk jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada
pembelajar. Pendekatan ini memberikan perhatian utama kepada kegiatan latihan,
drill, menghafal kosa kata, dialog, teks bacaan, dan pada sisi lain lebih
mengutamakan bentuk luar bahasa (pola, struktur, kaidah) dari pada kandungan
isinya, dan mengutamakan kesahihan dan akurasi dari pada kemampuan interaksi
dan komunikasi.
Pengetahuan tentang karakteristik bahasa Arab
merupakan tuntutan yang selayaknya dipahami oleh para pengajar bahasa Arab,
karena pengetahuan tersebut akan memudahkan mereka dalam melaksanakan kegiatan
pengajaran bahasa Arab. Namun harus dicernati bahwa karakteristik bahasa Arab
ini tidak identik dengan kesulitannya. Dengan memiliki pengetahuan yang baik
tentang karakteristik bahasa Arab setidaknya para pengajar bahasa Arab akan
mengetahui keunikan yang dimiliki bahasa Arab dan mencari strategi yang sesuai
untuk memudahkan anak didiknya dalam mempelajari bahasa Arab.
Bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik dan
universal. Unik artinya bahasa Arab memiliki ciri khas yang membedakannya
dengan bahasa lainnya, sedangkan universal berarti pula adanya kesamaan nilai
antara bahasa Arab dengan bahasa lainnya. Di antara karakteristik universal
bahasa Arab tesebut antara lain:
1)
Bahasa arab memiliki gaya bahasa
yang beragam. Keragaman gaya bahasa tersebut meliputi (a) ragam sosial, ragam
bahasa yang menunjukkan stratifikasi sosial ekonomi penuturnya. Sebagai misal,
bahasa yang digunakan oleh penutur yang terpelajar berbeda dengan bahasa yang
digunakan oleh penutur yang kurang berpendidikan, ragam bahasa standar (fusha)
berbeda dengan ragam bahasa 'amiyah. (b) ragam geografis, ragam bahasa yang
menunjukkan letak geografis penutur antara satu daerah dengan daerah yang lain,
sehingga melahirkan dialek yang beragam pula, seperti dialek Saudi berbeda
dengan dialek Mesir, Syria, Maroko, dll. (c) ragam idiolek, ragam bahasa yang
menunjukkan integritas kepribadian setiap individu masyarakat.
2)
Bahasa Arab dapat diekspresikan secara
lisan maupun tertulis.
3)
Bahasa Arab memiliki system, aturan
dan perangkat yang khas. Artinya bahasa Arab memiliki system bunyi, system
kata, system kalimat, dan system makna, dengan aturan-aturan yang khas.
4)
Bahasa Arab memiliki sifat yang
arbitrer dan simbolik. Arbitrer berarti mana suka, artinya tidak terdapat
hubungan yang rasional antara lambang verbal dengan acuannya. Sebagai misal,
benda cair yang bening yang biasa diminum dalam bahasa Arab disebut ma', dalam
bahasa Indonesia disebut air, dan dalam bahasa Inggris disebut water. Kata-kata
dalam setiap bahasa merupakan lambang-lambang benda nyata, abstrak, gagasan,
dan sebagainya. Dengan sifat simbolis yang dimiliki bahasa, manusia dapat
mengabstaksikan berbagai pengalaman dan pikirannya tentang berbagai hal
termasuk hal-hal yang belum pernah dialaminya sekalipun.
5)
Bahasa Arab senantiasa berkembang,
produktif, dan kreatif. Suatu bahasa itu sangat terbuka untuk berkembang. Dari
satu kata akan berkembang menjadi kalimat, dari satu kalimat dapat dihasilkan
jumlah kalimat yang tidak terbatas. Dari satuan bunyi yang sangat kecil dapat
dihasilkan ribuan jumlah kata. Selain itu, perkembangan bahasa selalu mengikuti
perkembangan peradaban manusia. Sebagai contoh, dalam bahasa Arab terdapat
sejumlah kata yang merupakan serapan dari bahasa lainnya seiring dengan
perkembangan era informasi dan teknologi. Seperti: tilivaz, tilfun, radiyu,
al-hasub al-'aliy, al-barid al-elektroniy, dll.
6)
Bahasa Arab merupakan fenomena individu
dan fenomena sosial manusia. Sebagai fenomena individu, ia merupakan ciri khas
kemanusiaan. Dengan kemampuan berbahasa yang dimilikinya, manusia dapat
berkembang melebihi makhluk-makhluk lainnya. Sedangkan sebagai fenomena sosial,
bahasa merupakaqn suatu konvensi (kesepakatan) suatu masyarakat pemilik atau
pengguna bahasa itu. Kesepakatan yang dimaksud pada dasarnya merupakan
kebiasaan yang berlangsung turun temurun dari nenek moyangnya.
Di samping memiliki karakteristik universal, bahasa
Arab juga memiliki karakteristis yang unik, antara lain:
a)
Bahasa Arab memiliki bunyi yang
konsisten dengan hurufnya. Bahasa Arab memiliki huruf yang tetap jumlahnya,
yaitu 29 huruf, dan setiap satu huruf memilki satu system bunyi. Berbeda dengan
bahasa Inggris yang memilki 26 huruf yang dapat menghadirkan 40 system bunyi.
b)
Bahasa Arab memiliki struktur kata
yang dapat berubah dan berproduksi. Satu bentuk kata dasar dalam bahasa Arab
dapat memproduksi berbagai bentuk kata dengan makna yang berbeda. Di sinilah faktor
kemudahan bahasa Arab. Dengan penguasaan kaidah tashrif dan isytiqaq yang
sebagian besar bersifat qiyasi (analogis), 45% kata-kata dalam bahasa Arab
dapat dilacak. Seperti kada dasar (قرأ) yang artinya
membaca, dapat ditambah awalan, sisipan, dan akhiran yang menghasilkan berbagai
variasi maknanya. Contoh (قراءة) yang berarti
bacaan, (قارئ) berarti pembaca/orang yang membaca, (مقروء) berarti yang
dibaca, dan sebagainya.
c)
Adanya i'rab dalam struktur kalimat
bahasa Arab. I'rab ini erat sekali hubungannya dengan makna. Perubahan harakat
akhir suatu kata sangat ditentukan oleh kedudukan atau jabatan kata dalam
struktur kalimat atau karena didahului oleh salah satu huruf atau kata tugas
(nawashib, jawazim, dan nawasikh). Perubahan i'rab itu sangat besar pengaruhnya
terhadap makna kalimat secara keseluruhan. Misalnya: ضرب أحمدُ عمرَ (Ahmad
memukul Umar). Perhatikan, kata Ahmad berharakat akhir dhammah dan kata Umar
berharakat akhir fathah. Bila harakat akhir kedua kata itu dirubah: ضرب أحمدَ عمرُ , kata Ahmad berubah menjadi
berharakat akhir fathah dan Umar menjadi berharakat akhir dhammah, maka makna
kalimat itu juga berubah menjadi (Ahmad dipukul Umar atau Umar memukul Ahmad).
d)
Tulisan bahasa Arab bergerak maju
dari kanan ke kiri, demikian pula membacanya. Karakteristik inilah yang
membedakan bahasa Arab dari segala bahasa di dunia.
e)
Bahasa Arab komitmen dengan bilangan
dan gender. Ada istilah mufrad yang berarti kata benda tunggal, mutsanna
berarti kata benda dual, dan jama' berarti kata benda plural. Ada istilah
mudzakkar artinya kata benda maskulin dan muannats artinya kata benda feminin.
Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa ciri-ciri khas bahasa Arab tersebut tidaklah identik dengan kesulitannya, karena banyak di antara ciri khas itu yang merupakan faktor kelebihan dan kemudahan bahasa Arab. Tinggal bagaimana kita melihat, mencermati, dan mendalami substansi bahasa Arab.[2]
Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa ciri-ciri khas bahasa Arab tersebut tidaklah identik dengan kesulitannya, karena banyak di antara ciri khas itu yang merupakan faktor kelebihan dan kemudahan bahasa Arab. Tinggal bagaimana kita melihat, mencermati, dan mendalami substansi bahasa Arab.[2]
C.
Problematika
Pembelajaran Bahasa Arab
Problematika adalah unit-unit dan pola-pola yang
menunjukkan perbedaan struktur antar satu bahasa dengan bahasa yang lain.
Problema dalam pembelajaran bahasa Arab merupakan suatu faktor yang bisa
menghalangi dan memperlambat pelaksanaan proses belajar mengajar dalam bidang
studi bahasa Arab. Problema tersebut muncul dari kalangan pengajar (guru) dan
peserta didik itu sendiri.
1.
Problematika Linguistik
Problematika linguistik adalah kesulitan-kesulitan
yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran yang diakibatkan oleh
karakteristik bahasa Arab itu sendiri sebagai bahasa Asing bagi anak-anak
Indonesia. Problema yang datang dari pengajar adalah kurangnya profesionalisme
dalam mengajar dan keterbatasannya komponen-komponen yang akan terlaksannya
proses pembelajaran bahaa Arab baik dari segi tujuan, bahan pelajaran (materi),
kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber pelajaran, dan alat evaluasi.
Sedangkan problema yang muncul dari siswa dalam belajar bahasa Arab adalah pengalaman
dasar latar belakang sekolah (SMP/ Mts), penguasaan mufradhat (pembendaharaan
kata), dan akibat faktor lingkungan keluarga akibatnya mereka mengalami
kesulitan untuk memahami bacaan-bacaan serta tidak mampu menguasai bahasa Arab
secara utuh baik dalam gramatika maupun komunikasinya. Basyar dan Malibari juga
menyebutkan yang termasuk problematika linguistik adalah sebagai berikut:
a)
Tata Bunyi
Sebenarnya pembelajaran bahasa Arab di Indonesia sudah berlangsung
berabad-abad lamanya, akan tetapi aspek tata bunyi sebagai dasar untuk mencapai
kemahiran menyimak dan berbicara kurang mendapat perhatian. Hal ini disebabkan
karena pertama, tujuan pembelajaran bahasa Arab hanya diarahkan agar pelajar
mampu memahami bahasa tulisan yang trdapat dalam buku-buku berbahasa Arab.
Kedua, pengertian hakekat bahasa lebih banyak didasarkan atas dasar metode
gramatika-terjamahan. Dengan sendirinya gambaran dan pengertian bahasa atas
metode ini tidak lengkap dan utuh, karena mengandung tekanan bahwa bahasa itu
pada dasarnya adalah ujaran. Memang perlu diketahui bahwa diberbagai pesantren,
masjid, bahkan di rumah-rumah dalam rangka mengajarkan Al-Qur’an telah diajarkan
tata bunyi bahasa yang disebut makharijul huruf dalam ilmu tajwid.
Akan tetapi ilmu tersebut menitik beratkan perhatian hanya untuk kepentingan kemahiran membaca Al-Qur’an, bukan untuk tujuan membina dan mengembangkan kemahiran menggunakan bahasa Arab. Jadi selama ini tata bunyi kurang diperhatikan dalam mempelajari bahasa Arab. Akibatnya seorang yang sudah lama mempelajari bahasa Arab masih juga kurang baik dalam pengucapan kata-kata atau kurang cepat memahami kata-kata yang diucapkan orang lain. Akibatnya seanjutnya masih terdapat kesalahan menulis ketika pelaaran didiktekan baik pelajaran bahasa Arab atau pelajaran-pelajaran lain yang bersangkut paut dengan bahasa Arab.
b) Kosa Kata
Faktor menguntungkan bagi para pelajar bahasa Arab dan bagi guru bahasa
Arab di Indonesia adalah segi kosa kata atau perbendaharaan kata karena sudah
banyak sekali kata Arab yang masuk ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa
daerah. Namun demikian, perpindahan kata-kata dari bahasa asing ke dalam bahasa
siswa dapat menimbulkan hal-hal sebagai berikut :
1.
Pergeseran arti
2.
Lafaznya berubah dari bunyi aslinya
tetapi artinya tetap.
3.
Lafaznya tetap, tetapi artinya sudah
berubah seperti kata “kalimat” yang bahasa Indonesianya adalah susunan
kata-kata, sedangkan arti dalam bahasa arab kata-kata.
c) Tata kalimat
Ilmu nahwu bukanlah ilmu mempelajari i’rab yaitu perubahan akhir kata
karena berubah fungsi kata itu adalah kalimat, dan binaa’ yaitu tidak adanya
prubahan akhir kata meskipun kata itu berubah-ubah fungsi dalam kalimat. Ilmu
nahwu adalah sintak yakni ilmu menyusun kalimat, sehingga kaidah-kaidahnya
mencakup hal-hal lain disamping i’rab dan binaa’.
d) Tulisan
Adapun faktor yang mugkin menghambat pembelajaran bahasa arab ialah tulisan
Arab yang berbeda sama sekali dengan bahasa siswa (tulisan latin) . Oleh karena
itu, tidak mengherankan jika meskipun sudah duduk di perguruan tinggi seperti
IAIN, masih juga membuat kesalahan dalam menulis Arab baik mengenai pelajaran
bahasa maupun ayat-ayat Al-Quran dan Hadits, baik pada buku catatan ataupun
dalam karangan-karangan ilmiah.
2.
Problematika Non Linguistik
Sebagai sosio-kulturil bahasa Arab sudah tentu berbeda
dengan sosio-kulturil bangsa Indonesia. Hal ini menimbulkan problem pula
sehubungan dengan pembelajaran bahasa Arab. Karena akibat perbedaan
sosio-kulturil tersebut, maka antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia terdapat
perbedaan-perbedaan antara lain ungkapan-ungkapan, istilah-istilah ataupun
nama-nama benda. Problem yang mungkin timbul adalah ungkapan-ungkapan,
istilah-istilah, dan nama-nama benda yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia
tidak mudah dan cepat dipahami pengertiannya oleh pelajar Indonesia yang belum
mengenal sedikitpun segi sosio-kulturil bahasa Arab.[3]
D. Kontribusi Behaviorisme Psikolinguistik Terhadap Pemerolehan Bahasa Dengan Metode Pembelajaran Bahasa Arab Amtsilati
Dalam pemerolehan bahasa pada anak baik bahasa ibu
maupun bahasa asing mempunyai beberapa tahap, yang dimulai daro proses
pemerolehan fonologi, proses pemerolehan morfologi, dan proses pemerolehan
sintaksis. Pada proses pemerolehan fonologi pada anak dimulai dari tahap cooing
sebagai tahapan di mana anak mulai dapat membedakan bunyi-bunyi untuk
selanjutnya mengarhkan pada memahami persepsi (speech perception). Untuk
itu diperlukan pendekatan berkesinambungan
(the continuity approach) dan pendekatan tak berkesinambungan (the
discontinuity approach). Adapun tahapan meliputi penglihatan konsonan
akhir, pengurangan kelompok konsistan, penghilangan silabi, dan reduplikasi.
Dan peada proses pemerolehan morfologi, anak melakukan deferensiasi kelas kata
yang melipuiti pembentukan kata jamak, pembentukan imbuhan dan perubahan kata
kerja. Selain itu anak akan memahami hukum pemerolehan yang meliputi pemahaman
bentuk dan macam makna kata berdasarkan konteks, membedakan kata-kata tugas dan
imbuhanya, membuat generalisasi, memperhatikan akhiran dan awalan, serta
memahami aturan penempatan kata.
Adapun pada proses pemerolehan sintaksis meliputi
teori tata bahasa piovt, teori hibungan kata nurani, teori hubungan tata bahasa
dan situasi, teori kumulatif kompleks dan teori pendekatan semantik[4].
Terutama pada proses pemerolehan bahasa asing yangmana anak tahapan yang diatas
adalah hal yang mungkin lebih sulit dibandingkan dengan pemerolehan bahasa ibu
B (1), yang terlebuh pada pemerolehan bahasa arab yang terkadang terbayang
sulit karena karakteristik bahasanya yang beragam, walaupun kebanyakan orang,
terkhusus di negara kita yangmana pembelajaran bahasa arab sudah ditanamkan
sejak dini. Akan tetapi kebanyakan pada proses pembelajarannya yang lama dan
terbilang sulit dan bahasa arab untuk non-Arab itu termasuk hal yang baru . Dalam
sistem pengajara program bahasa arab dimulai dari bebrapa tahap model
pengajaran dari sejak tahun terakhir abad 13 hijriyah yang lalu (abad 20 M),
program pengajaran bahasa arab untuk non-Arab masih menggunkan semua metode
pembelajaran trsdisional, dan kontempoler. Program pengajaran bahasa arab ini
mengenal metode kaidah dan terjemah (grammar transilation method). Inilah
metode pengajaran tertua yang sudah terkenal. Program pengajaran bahasa Arab
mengadopsi metode audiolingual
dalam waktu yang panjang.
Berdasarkan metode ini, dibuatlah rancangan pelajaran
dan kurikulum, dan buku ajar. Para penagjar pun dilatih berdasarkan berdasarkan
metode itu. Peninggalanya masih ada bekasnya hingga sekarang. Adapun pendekatan
baru, khususnya pendekatan komunikasi berikut semua metodenya, sesungguhnya-
menurut pendapat saya belum masuk ke dalam bidang pengajaran bahasa Arab untuk
nono-Arab dalam pengertian yang sebenarnya, terkecuali ada sebagian pandapat
penganut aliran kognitif, yang kadang-kadang terlihat dari sela-sela
pembicaraan tentang pengajaran kaidah[5].
Meski pola pengajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua
di atas sangat dominan berlaku di berbagai pondok pesantren salaf hingga kini,
dan diakui kontribusinya dalam memberikan pemahaman umat Islam Indonesia
terhadap ajaran agamanya, namun tuntutan dunia komunikasi pada gilirannya
menggiring perubahan baru pola pengajaran bahasa Arab. Interaksi antar bangsa
menuntut umat Islam untuk tidak sekedar memiliki kemampuan berbahasa Arab
reseptif (pasif), tetapi kemampuan berbahasa yang lebih aktif dan produktif. Semangat
pembaruan ini diperkuat dengan munculnya para cendikiawan dan intelektual muda
muslim dengan nuansa pemikiran yang segar, sekembali mereka dari menuntut ilmu
di negeri pusat-pusat pendidikan di Timur Tengah, terutama Mesir.
Pada masa inilah metode langsung (direct method /
al-thariqah al-mubasyirah) mulai diterapkan dalam pengajaran bahasa Arab di
Indonesia. Pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga ini terdapat di berbagai pondok
pesantren atau lembaga pendidikan Islam modern sejak awal abad ke-19. Dimulai
di Padang Panjang oleh ustadz Abdullah Ahmad, Madrasah Adabiyah (1909), dua
bersaudara Zaenuddin Labay al-Yunusi dan Rahmah Labay el-Yunusiyah, Diniyah
Putra (1915) dan Diniyah Putri (1923), dan ustadz Mahmud Yunus, Normal School
(1931). Kemudian ditumbuh-kembangkan oleh K.H. Imam Zarkasyi di Kulliyatul
Mu'allimin al-Islamiyah Gontor Ponorogo.
Dalam sistem pengajaran bentuk ketiga ini, pelajaran
agama pada tahun pertama diberikan sebagai dasar saja dengan menggunakan bahasa
Indonesia. Sementara itu, sebagaian besar perhatian siswa dicurahkan kepada
pelajaran bahasa Arab dengan metode langsung. Pada tahun kedua, ilmu tata
bahasa Arab (nahwu-sharaf) mulai diberikan dalam bahasa Arab dengan metode
induktif (al-thariqah al-istiqra'iyah), ditambah dengan latihan intensif
qira'ah (reading), insya' (writing), dan muhadatsah (speaking/conversation).
Pelajaran agama juga disajikan dalam bahasa Arab. Dalam masa belajar enam tahun
(pasca sekolah dasar), seorang lulusan perguruan Islam modern ini (setara
dengan lulusan SLTA/SMA) telah mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab secara
lisan dan tulis, serta mampu membaca buku berbahasa Arab dalam berbagai subyek
pengetahuan.
Dalam perkembangannya, pengajaran bahasa Arab di
perguruan Islam modern ini tidak hanya menggunakan metode langsung tapi
mengikuti pembaruan-pembaruan yang terjadi di dunia pengajaran bahasa, misalnya
metode aural-oral (al-thariqah al-sam'iyah al-syafawiyah) dan pendekatan komunikatif
(al-thariqah al-itthishaliyah)[6].
Dalam kaitanya dengan metode pengajaran bahasa Arab
yang terus berkembang, berbagai metode pun bermunculan yang akan tetapi
penekana pengajaranya langsung terhadap tata bahasanya (garammar), seperti
misalnya metode 33, amstilati, dan lain sebagainya. Dalam kajian kali ini saya
akan menekankan pada metode pengajaran Amtsilati yangmana kemunculan metode
pengajaran ini memebantu dan mempermudah dalam kajian kebahasaan Arab. Dalam
pengajaranya metode Amtislati mengedepankan hafalan yang menjadi acuan
keberhasilan seorang anak yang belajar. Yangmana peranan psikolinguistik
behavioristik sangat berpengaruh terhadap berjalanya pengajaran dengan metode
ini, walaupun dalam kenyataanya ranah kognitifpun tidak bisa untuk dilepaskan.
Proses dalam pengajaran Amtsilati mempunyai beberapa
tahap yang mana tahap-tahap tersebut mengklasifiksikan antra murid yang pemula
dan yang sudah bisa. Tahapan dalam pengajaranya yaitu terbagi pada tiga tahap,
yang tahap pertama yaitu jilid 1 – jilid 5, sebagi pembekalan rumus-rumus
bahasa Arab atau tahapan pemula. Dan tahap yang kedua adalah Pra-prakterk yang
mana dalam tahap ini murid-murid digembleng kembali hafalanya dari awal sampai
jilid yang terakhir untuk mempersiapkan ketahap yang terakhir yaitu Praktek,
yangmana dalam tahap ini anak didik sudah di dilibatkan dalam pemeraktekan
ketata-bahasaan dan dituntut harus bisa. Dalam pengajarannya setiap jilid
gurunya terdiri dari bebrapa guru sepesialis, ada sepesialis jilid satu, jilid
dua, dan seterusnya, ada sepesialis praktek dan sepesialis penilai.
Misalnya, ada anak 100 orang anak 40 orang diajari
Amtsilati jilid satu semua, pengajaranya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu
lambat. Tidak terlalu cepat artinya tidak terlalu mengikuti kamauan anak-anak
yang cerdas dalam kognitifnya, sementara bagi anak yang tidak mampu mengikuti
(bodoh). Jangan terlalu lambat artinya jangan kita menuruti kemauan anak yang
lambat, sehingga anak-anak pandai jadi jenuh dan meremehkan pelajaran. Anak
yang memang sangat lambat, ditinggal saja agar hanyut sampai khatamanya jilid
satu. Dalam waktu lamanya pengajaran diusahakan sampai seminggu atau 10 hari
bisa khatam satu jilid. Sehari 3 sampai 4 kali pertemuan, masing-masing 45
menit.[7]
Adapun buku-buku Amtsilati sendiri terdiri dari:
Ø Rumus Qoidah
yang merupakan kitab intisari dari amtsilati milai dari jilid satu sampai jilid
lima dan dilengkapi petunjuk nadhoman yang ada pada kitab khulasoh. Untuk
mencapai keberhasilan maka nadloman seyogyanya dihafalkan, bila tidak mampu
maka materi dan rumusnya dipahami. Rumus Qaidah juga sebagai kunci untuk
mengukur kemampuan dan keberhasilan pada anak.
Ø Jilid 1 – jilid
5 yang merupakan kitab pengaplikasian dari kitab Rumus Qoidah diatas. Dan kitab
jilidan ini sebagai pengukur kemampuan pada anak dan sejauh mana memahami Rumus
Qaidah dalam penerapannya.
Ø Kitab Sorfiyah,
yaitu kitab yang berisi tentang ilmu shorop, perpaduan tasrif lughawi, istilahi
dan i’lal sekaligus. Sorfiyah digunakan sebagai tabel, apabila menemukan
kata-kata yang sulit yang dibahas dalam Amtsilati, dengan mengqiyaskan kata
tersebut dengan kata yang ada.
Ø Kitab Thatimah
yang mana berisi tentang penerapan rumus yang sangat penting, sehingga
memudahkan para pembaca menerapakan berbagai qoidah yang ada.
Keberhasilan berjalanya metode Amtsilati ini tidak
terlepas dari toeri yang terdapat pada psikolinguistik yaitu teori
behaviorisme. Yangmana proses pemerolehan bahasa dan pemerolehan kemampuan
bahasanya didasrkan pada rangsangan-rangsangan luar, seperti stimulis yang
diikuti oleh respon-balik. Dan pada proses pembelajaran metode Amtsilati
stimulis yang menjadi stimulus acuan pada pemerolehan kemampuan anak dalam
menguasia tata-bahasa Arab yaitu pada penekanana hafalan yang diperintahkan
setiap gurunya kepada anak. Dari sinilah proses pembelajaran bahasa asing
terutama bahasa Arab yang kebanyakan orang menganggap sulit dan butuh waktu
lama dalam mempelajarinya, bisa ditempuh dengan waktu yang relatif singkat.
Karena karena dalam proses pembelajaranya anak dituntut untuk menghafal semua
kitab yang telah dijelaskan diatas. Dan dari pihak pengajarnyapun menuntut pada
anak untuk berkompetisi dengan anak yang lain dengan adanya tuntutan seperti
ini menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi para murid-murid yang belajar
Amtsilati.
III.
Penutup
Dalam proses pemerolehan bahasa baik bahasa ibu maupun
bahasa asing pada anak adalah sebuah proses pembelajaran yang membutuhkan
proses. Dalam prosesnya pemerolehan bahasa ini terdapat beberapa toeri dalam
psikolinguistik yangmana membahas tentang pemerolehan bahasa. Dalam proses
pemerolehan bahasa dan pengajarannya, kontribusi teori-teoeri psikolinguistik
sangatlah berperan penting.
Seperti yang telah saya paparkan diatas tentang
kontribusi psikolinguistik terhadap keberhasilan dalam memperoleh bahasa yang
terutama bahasa asing. Yang saya khusukan dalam kajian bahasa asing disini
yaitu bahasa Arab. Dari beberapa teori psikolinguistik yang ada, saya mengambil
teori bahaviorisme sebagai alat kajian dalam keberhasilan dan berjalanya metode
Amtsilati. Dari proses pembelajaran dan pemerolehan bahasa yang terutama bahasa
Arab membutuhkan kemauan atau waktu yang lama. Dan kebanyakan orang memandang
mempelajari dan memperoleh kemampuan bahasa arab ini sangat sulit, karena
bahasa Arab sendiri mempunyai karakter yang sangat unik. Dari sini munculah
metode Amtsilati dari bebagai metode pembelajaran bahasa arab, yangmana
membantu dan mempermudah dalam proses pemerolehan bahasa Arab dan relatif
singkat. Keberhasilan seperti ini tidak terlepas dari kontribusi behaviorisme
psikolinguistik sebagai penunjangnya.
IV.
Daftar Pustaka
Prof. Dr. Aziz, Abdul bin Ibrahim el-Ushaili,
Psikolinguistik Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: HUMANIORA; 2009
Indah, Nur Raomani dan Abdurrahman, Psikolinguistik
Konsep dan Isu Umum. Malang: UIN-Malang; 2008
H. Hakim Taufiqul,” Tawaran Revolusi Sistem Pendidikan
Nasional”. Bangsri, PP Darul Falah, jepara 2004
Dardjowidjojo Soenjono, Psikolinguistik Pengantar
Pemahaman Bahasa manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia: 2005
H. Hakim Taufiqul, Rumus Qoidah, Jepara: Al-Falah
Offiset: 2004
H. Hakim Taufiqul, Amtsilati Metode Praktis Mendalami
Al-Quran dan Membaca Kitab Kuning Jilid 1 – 5, Sorfiyah dan Thatimah. Jepara:
Al-Falah Ofisset: 2003
Admin, “Problematika Pembelajaran Bahasa Arab” www.
Pesantren Sastra.com
Emil Bade Ya’qub,
fiqhullugah wa khosoisuha, Bairut, Darussanafah Al-Islamiyah
[1] Prof.
Dr. Abdul Aziz bin Ibrahim el-Ushaili, (Bandung, Humaniora, 2009). Hml. 126.
[2] Emil Bade Ya’qub, fiqhullugah wa khosoisuha, ( Bairut,
Darussanafah Al-Islamiyah) hlm. 231-253.
[3] Admin, “Problematika Pembelajaran
Bahasa Arab” www. Pesantren Sastra.com, diakses pada 10 Juli 2012 pukul 08.30
WIB
[4] Rohmani Nur Indah dan Adurrahman
“psikoloinguistik konsep dan isu umum” (Malang, UIN- Malang Press, 2008) hml.
103.
[5] Prof. Dr. Abdul Aziz bin Ibrahim
el-Ushaili, (Bandung, Humaniora, 2009). Hml. 126.
[6] Achmad Asif,S.Pd.I,M.S.I, “ pembelajaran
qawa'id bahasa Arab” http://mahyudinritonga1.
Blogspot.com diakses pada 7 Juli 2012 pukul 21.30 WIB
[7] H. Taufiqul Hakim,” Tawaran Revolusi
Sistem Pendidikan Nasional”, (Bangsri, PP Darul Falah, jepara 2004)